Hukrim

Keluarga Resah Oknum Polisi Ubah – Ubah Pernyataan, Ketua DPRD NTT Ikut Bersuara

DETIKINDONESIA, KUPANG – Saudara kandung korban, Viktor Lelis yang di temui media di rumahnya, Kota Kupang, NTT. Jumat (6/3/2020) kepada DETIK Indonesia mengeluhkan beruba-ubahnya pernyataan oknum polisi.

Menurut Victor, Kanit Res Amfoang Timur melalui Ipda Fridinari Kameo tak konsisten.

“Ibu Kameo mengubah pernyataannya beberapa kali terkait pemeriksaan kejiwaan terhadap tersangka, ini tidak konsisten. Pernyataan yang tidak konsisten tersebut menimbulkan keresahan bagi keluarga. Keluarga meragukan integritas dari penegak hukum dalam dalam menangani kasus ini,” ujar Viktor.

“Ibu Kameo bilang kalo pelaku sementara dirawat di Rumah Sakit Jiwa Naimata, padahal wartawan turun kesana dan Kepala RSJ Naimata bilang tidak ada pasien atau klien atas nama Halena,” Lanjut Viktor.

“Setelah itu Ibu Kameo juga bilang pelaku sedang di rawat jalan oleh RSJ Naimata. Hal ini juga dibantah Kepala RSJ Naimata dr. Dickson Legoh,” terang Viktor.

“Setelah ada klarifikasi dari dr. Dikcson Legoh, ibu Kameo lagi-lagi merubah pernyataannya. Ibu Kameo bilang tersangka di pulangkan ke rumah karena keluarganya tidak punya biaya pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa, mana uang benar ?” tanya Viktor.

Tambah Viktor, “Setelah itu, bilangnya suda dikasih tes psikologi oleh Polda dan hasilnya sudah diserahkan ke Kejaksaan, padahal Kejaksaan ketika di konfirmasi media bilang belum ada berkas terkait kondisi kejiwaan tersangka yang di serahkan sejak tanggal (5/12/2019), sehingga pada (10/12/2019) pelaku dipulangkan ke rumahnya. Sekarang pelaku ada enak-enak dengan keluarganya tapi saudara perempuan saya tidak bisa kerja kebun lagi karena cacat dan suda takut pulang ke rumahnya karena pelaku ancam membunuhnya.”

Telah diberitakan sebelumnya, Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Oelamasi, Nelson Tahik juga menyampaikan bahwa waktu yang di tentukan untuk kepolisian memasukkan hasil tes kejiwaan Tersangka sudah lewat namun Kejaksaanpun tidak dapat berbuat banyak perihal inisiatif pemanggilan tersangka karena batasan kewenangan.

“Karena kita bukan ahli di bagian kejiwaan sehingga tersangka kita kembalikan ke penyidik dulu untuk dilakukan tes kejiwaan oleh ahli, setelah itu baru kita lanjutkan prosesnya. dan Tersangka sudah dikembalikan ke penyidik sejak tanggal 10 Desember 2019,” papar Nelson,” ujar Nelson yang ditemui di Ruang Kerjanya, Kantor Pengadilan Negeri Oelamasi. Kamis (13/02/2020).

Ketua DPRD Provinsi NTT, Emi Nomleni yang dijumpai usai kegiatan bedah buku, KOMPAK oleh DETIK Indonesia, Sabtu (22/02/2020) ikut mengomentari persoalan ini.

“Kalau memang polisi tidak mau menangani kasus ini, tolong masalah ini di sampaikan kepada Bupati disana, agar masala ini cepat mendapat perhatian,” tandas Emi yang konsen memperjuangkan hak-hak perempuan.

Sementara, Kordintor P2TP2A, Elly Adonis mengungkap keprihatinannya terhadap kasus ini.

“Kita tahu kalo Lembaga Kepolisian adalah Lembaga Profesional yang tidak perlu kita ragukan Profesionalitasnya, tetapi dalam hal ini jika ada oknum yang turut ambil bagian dengan kepentingannya sendiri, itu yang kita sesali juga,” pungkas Elly di ruang kerjanya, Kantor P2TP2A. (19/2/2020). (DI/YW)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker