Peristiwa Daerah

Jika Pemerintah Mendukungnya, Bawang Merah Akan Menjadi Komoditas Unggulan di Papua Barat

DETIKINDONESIA, MANOKWARI – Kelompok Tani di Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel) meyakini mampu menjadikan bawang merah sebagai salah satu komoditas unggulan di Papua Barat, Pernyataan ini diungkapkan oleh Ahmad Rudin dan Nasarudin salah satu kelompok tani di Distrik Oransbari Kabupaten Mansel  saat bertatap muka bersama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Provinsi Papua Barat, Marlina, di Mansel, Minggu (8/03/2020).

Ahmad Rudin mengatakan, jika pemerintah daerah serius mengembangkan komoditi bawang merah di Mansel, pihaknya yakin mampu memenuhi kebutuhan pasar, tak hanya daerah setempat bahkan seluruh kabupaten kota di Papua Barat.

“Jika pemerintah daerah mendukung dan ingin menjadikan bawang merah salah satu komoditas unggulan di Mansel, kami yakin mampu dan bahkan bisa memenuhi kebutuhan pasar di Papua Barat ini,” terang Ahmad Rudi.

Diungkapkan, bahwa karakteristik tanah di Distrik Oransbari Mansel sangat cocok jika ditanamkan komodi bawang merah. Dan hal ini telah ia buktikan dengan berulang kali melakukan uji coba penaman bawang merah di lahan milikmya.

“Saya mulai tanam bawang merah di (Dsitrik Oransbari, red) sini, dari 2016 sampai sekarang. Saya coba di lahan 150 m2 (Meter persegi) dengan bibit 80 kg menghsilkan 350 kg. Artinya dengan ukuran ini, peluang akan kebehasilan pertanian bawang merah di Distrik Oransbari sangat tinggi. Kemudian percobaan berikutnya dengan bibit 350 kg mengahsilkan 2500 kg atau 2,5 ton,” tuturnya.

Kelebihan lainnya kata dia, selama menanam bawang merah di Oransbari, tidak pernah menemui hama yang kerap menyerang tanaman bawang merah seperti di beberapa daerah di luar papua.

“Kendala utama kami adalah bibit, karena kita harus mendatangkan bibit dari luar Papua Barat seperti dari Jawa, Makassar dan Bima,” ujarnya.

Nasarudin, juga menambahkan, dalam setahun, pihaknya bisa menanam bawang merah 3 kali dengan masa waktu panen 60-70 hari.

“Hanya dalam waktu 2 bulan saja atau 60 sampai 70 hari, bawangnya sudah bisa dijual di pasaran,” sebutnya.

Ia mengatakan, pihaknya selama ini hanya mampu menanam bawang merah dalam jumlah yang kecil lantaran keterbatasan modal dalam membeli bibit yang harganya cukup mahal. Mereka, pun pernah mencoba menggunakan bibit hasil dari bawang merah yang ditanamnya, namun hasil yang dicapai tak maksimal seperti bibit yang didatangkan dari luar.

Kata dia, misalkan kebutuhan bibit 1000 kilo gram atau 1 ton dengan harga Rp 25 ribu perkilonya ditambah biaya pengiriman atau ekspedisi sampai di Manokwari mencapai Rp 30 ribu. Artinya kata dia membutuhkan modal Rp 30 juta kemudian ditambah dengan biaya pupuk dan lainnya selama masa penanaman hingga membutuhkan modal mencapai Rp 50 juta dalam 1 ton bibit.

“Tapi dari jumlah bibit 1 ton, bisa menghasilkan 5 ton bawang merah. Dan jika dipasarkan sekalipun kita jual lebih murah dari bawang yang dari jawa, semisal harga kisaran Rp 25 ribu perkilonya, jadi hasil kotornya Rp 125 juta. Kemudian kita kurangi modal bibit, pupuk dan lain-lain Rp 50 juta, maka kita masih dapat Rp 75 juta satu kali panen,” jelas Nasarudin.

“Artinya, bukan petani saja yang untung, tapi juga masyarakat, karena bawang merah bisa kita jual jauh lebih murah dari bawang yang datang dari luar papua,” sambungnya.

Pihaknya mengaku, baru satu kali mendapat bantuan bibit dari Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat melalui Dinas Pertanian Kabupaten Mansel yakni 50 kilo gram setiap satu orang petani dari jatah di Mansel 5000 kilo gram.

“3.5 ton untuk Distrik Oransbari dan 1.5 ton untuk Distrik Ransiki. Itu pun bibit ada yang busuk dan tidak maksimal,” ucapnya.

Sementara itu, Tokoh Transmigrasi Distrik Oransbari Tatang Chaeruddin yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, pihaknya menjamin ketersedian lahan untuk ditanami bawang merah.

Untuk saat ini lahan tersedia 10 heaktar bahkan lebih dari luas tersebut. Hanya saja ia sangat mengharapkan keseriusan dan dukungan pemerintah daerah dalam mengembangkan komoditas bawang merah di Mansel.

Dan ia juga berharap, ada bantuan peralatan, seperti Alkon atau mesin pompa air, kultifator atau penggembur tanah dan jonder penggarap tanah.

“Kita punya lahan 10 hektar bahkan lebih dari itu. Satu orang bisa tanam bawang merah untuk 1 heaktar lahan. Kalau 10 heaktar berarti hanya 10 orang saja. Dan itu bisa kita lakukan,” pungkas Kepala Suku Pasundan di Distrik Oransbari tersebut. (DI/KRIS)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker