PendidikanPeristiwa Daerah

HMP Kimia Undana Gelar Seminar Sehari Menakar Eksistensi Ilmu Kimia di NTT

DETIKINDONESIA, KUPANG – Himpunan Mahsiswa Program Studi Kimia, Fakultas sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (UNDANA) gelar seminar sehari di Aula BAAKPSI Lama, Kampus UNDANA Penfui, Kupang, NTT. Sabtu (14/04/2020).

Seminar dengan tema, Eksistensi Ilmu Kimia Dalam Upaya Pengembangan Budaya Lahan Kering, Kepulauan dan Pariwisata NTT di Era Revolusi Industri 4.0.

Seminar menghadirkan empat pemateri yaitu Drs. Theodorus Da Cunnha, M.Si yang menyampaikan materi tentang Eksistensi Ilmu Kimia Dalam Upaya Pengembangan Budaya Lahan Kering. Philiphi De Rozari S.Si, M.Si, S.Sc,Ph.D yang menyampaikan materi tentang Eksistensi Ilmu Kimia Dalam Kepulauan dan Pariwisata NTT. Yosep Lawa, S.Pd, M.Biotec yang menyampaikan materi tentang Sejauh Mana Pemanfaatan Teknologi Kimia Dalam Mendukung Pengembangan Budaya Lahan Kering Kepulauan dan Pariwisata NTT di Era Revolusi 4.0. Umbu Wulang Paranggi, S.Sos yang menyampaikan materi tentang Motivasi Untuk Eksistensi Ilmu Kimia Dalam Upaya Pengembangan Budaya Lahan Kering, Kepulauan dan Pariwisata NTT di Era Revolusi Industri 4.0.

Ketua Panitia, Fransiskus Ndarung kepada DETIK Indonesia usai Seminar Sehari menyampaikan tujuan dari seminar sehari.

“Tiga tujuan dari Seminar Sehari adalah menambah wawasan dan pengembangan diri bagi mahasiswa, membentuk dan meningkatkan intellectual quantity serta emotional quantity, mengembangkan kemampuan dalam berkompeten,” ujar Frans.

Sementara, Pemateri pertama Drs. Theodorus Da Cunnha, M.Si mengatakan bahwa Peneliti – peneliti kimia melalui riset harus mampu menjaga kearifan local yang dimiliki supaya jangan dimakan perubahan era.

“Peneliti – peneliti kimia melalui riset harus mampu menjaga kearifan local yang dimiliki supaya jangan dimakan perubahan era. Misalnya beberapa kearifan local seperti pembuatan Se’i. Pembuatan sei yang menggunakan kayu kusambi secara terus menerus akan mengakibatkan hilangnya kayu kusambi, disini bagaimana seorang peneliti kimia menemukan bahan pengganti atau setidaknya mengurangi pemakaian kayu kusambi,” kata Theo.

Theodorus Da Cunnha menambahkan, “Untuk sumber daya manusia, kita sangat mampu, di UNDANA sendiri, dari 900san dosen terdapat sekitar 400san yang sudah bergelar doctor. Sisanya bergelar magister. Dalam ilmi eksakta kita sudah lengkap.”

Pemateri ketiga, Yosep Lawa, S.Pd, M.Biotec mengungkapkan bahwa ada paradigma yang keliru tentang ilmu kimia

“Teknologi kimia dilahan kering memiliki kaitan dengan budaya, sedangkan kimia adalah nama yang didatangkan dari luar, namun sebenarnya kimia adalah kita sendiri, kimia adalah tempat dimana kita hidup, makan, minum, segala yang kita butuhkan semua dalam urusan. Itu semua adalah kimia yang sebenarnya.”

“Hanya karena menggunakan bahasa dan pendekatan yang berbeda maka membentuk paradigma bahwa kimia itu sesuatu yang sulit, yang tidak dapat dipahami, seuatu yang diluar kemampuan. Oleh karena itu, perlu sebuah kesempatan untuk memahami kimia secara lebih sederhana, seperti seminar hari ini. Melalui seminar hari ini ternyata kita temukan bahwa kimia bukan sesuatu yang sulit, sesuatu yang baru, sesuatu yang baru datang dari mana,” lanjut Yosep

Yosep Lawa juga menyampaikan tantangan pemanfaatan ilmu kimia dalam upaya pengembangan budaya lahan kering, kepulauan dan pariwisata NTT di era revolusi industri 4.0.

“Pendekatan sangat penting untuk menjelaskan kepada masyarakat apa itu kimia dan kemanfaatannya bagi kehidupan. Contoh sederhananya bagaimana kita menyuburkan kembali tanah, mengolah bahan makanan, Food Security (ketahanan Pangan) dan berbagai macam hal yang lain, itukan pendekatan – pendekatan yang sangat sederhana. Memang perlu internalisasi nilai yang kuat didalam diri seseorang untuk bisa memahami kimia dan memberi penjelasan kepada masyarakat,” ujar Yosep.

Tambah Yosep Lawa, potensi yang dimiliki oleh masyarakat NTT dalam pengembangan ilmu kimia untuk mendukung upaya pengembangan budaya lahan kering, kepulauan dan pariwisata NTT di era revolusi industri 4.0.

“Manusia NTT sudah dilahirkan originalnya itu cerdas karena alam telah membentuknya untuk eksis. Kita berada didaerah yang memiliki terpaan alam yang sangat kuat sehingga memiliki identitas generasi yang eksis. Generasi yang eksis merupakan suatu potensi yang kuat daya menyelesaikan suatu masalah. Karena generasi eksis memiliki kemampuan menganalisis dan menyelesaikan masalah maka itu merupakan suatu potensi besar kedepan untuk pengembangan teknologi kimia karena semua hal yang namanya materi itu adalah kimia. Wilayah cakupan kimia itu amat sangat luas maka bagaimana masing-masing kita mengembangan diri untuk menjadi pakar, pemikir,pemberi solusi atau pemberi dorongan pada bidang yang kita geluti masing – masing,” papar dosen Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UNDANA tersebut.

Seminar sehari menghadirkan 421 peserta dari berbagai Kampus di Kota Kupang. (DI/YW)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker