Life Style

Waspada, Jika Perlu Matikan AC Selama Wabah Virus Corona Mengancam

DETIKINDONESIA, BANDUNG – Atas dasar penelitian ilmiah dari negara-negara di dunia yang penyebaran virus corona lebih cepat dan masif terjadi seperti Italia, Korea, Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Turkey, Irlandia, Swedia, Rusia, Canada hingga Amerika Serikat dimana notabene beriklim sejuk dan lembab.

Saat ditemui di depan Gedung DPRD Kota Bandung Jalan Sukabumi 30 Kota Bandung, Selasa, 31/3/2020 pukul 07:30 WIB, Ujang Uhe peneliti praktis sosial mengungkapkan bahwa AC merupakan alat penghantar memicu penyebaran virus corona yang relatif cepat.

“Disamping membuat sejuk ruangan yang membuat virus corona nyaman dengan iklim tersebut, terlebih sirkulasi udara dalam ruangan yang berputar relatif tetap” jelas Ujang.

Ujang memaparkan juga bahwa sangat fatal jika AC dalam keadaan rusak dan kurang di maintance. AC juga bisa menjadi sarang tempat virus corona berkembang biak.

AC (Foto: DETIK Indonesia)

“Alangkah bijaknya jika AC sementara tidak digunakan hingga virus corona benar-benar tidak ada” imbuhnya.

“Jangankan virus corona, virus-virus yang lainnya akan menumpuk jika AC jarang di service atau di maintance” tambahnya.

Sudah siapkan kita kerja dan aktivitas kegiatan lainnya diruangan tanpa AC? Percaya tidak percaya AC adalah penghantar perambatan virus corona mewabah lebih cepat.

“Mari kita peduli pada keadaan yang bisa memperparah virus corona berkembang dari hal yang kita dapat dan silahkan perhatikan referensi dari beberapa fakar ahli dibawah ini” pinta Ujang pada halayak umum.

Kepala Ilmuwan Kesehatan dari Departemen Kesehatan Singapura, Profesor Tan Chorch Chuan, mengatakan bahwa ada aksi nyata yang bisa dilakukan untuk menghindarkan diri dari virus corona.

Salah satu trik yang sudah mafhum di masyarakat adalah langkah mencuci tangan dengan bersih dan teratur. Namun banyak orang yang belum tahu bahwa mematikan AC ternyata bisa membuat virus sulit menular. Selain mematikan AC, masyarakat juga dihimbau untuk menyalakan kipas angin dan menghirup udara segar.

“Virus diketahui berkembang biak dengan baik di wilayah yang sejuk dan lembab. Sedangkan di Singapura cuacanya panas dan kurang kondusif untuk berkembang. Jadi memang agak membingungkan,” kata Chuan, yang dilansir dari Strait Times, Selasa (11/02) satu bulan lalu.

Di Singapura sendiri, kemungkinan penularan virus di luar ruangan lebih jarang terjadi. Dia mengatakan bahwa tidak bertahan lama di ruangan yang panas dan lembab. “Artinya, akan sulit bagi virus untuk melakukan replikasi jika suhu di atas 30 derajat Celcius dan kelembaban di atas 80 persen,” lanjutnya.

Profesor Hsu Li Yang, ketua program penyakit menular di Universitas Nasional Singapura (NUS), mengatakan bahwa air conditioner (AC) merupakan sesuatu yang tak membantu di Singapura, terutama saat musim panas. Tapi ruangan tertutup yang cenderung lembab dan dingin bisa membantu penyebaran penyakit pernapasan.

Para ahli kemudian menyarankan masyarakat untuk tetap membuka jendela dan pintu untuk membuat ventilasi ruangan. Menurut WHO, dalam sebuah laporan, mengidentifikasi jika pasien dengan virus corona harus ditempatkan dalam ruangan dengan ventilasi yang baik.

Profesor Wang Linfa, direktur untuk program dalam penyakit menular NUS, mengatakan sinar ultra violet dan panas dari matahari dapat membunuh virus itu. “Jika Anda bisa tinggal di bawah matahari untuk sementara waktu, itu akan baik,” tambahnya.

“Vitamin D juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.” pungkasnya. (DI/Iwnaruna)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker