Opini

PSBB, Komunikasi Dan Warga – #AYOJAGAJARAK

Oleh: AKHMAD SAOQILLAH

Penulis Adalah: Pengamat Komunikasi Digital / Direktur Madani Indonesia

PSBB, istilah ini mungkin baru terdengar di masyarakat kita, namun istilah ini semakin popular paska tanggal 10 April 2020. Pasalnya per 10 April 2020, pemerintah melalui kementerian kesehatan menyetujui penerapan PSBB di DKI Jakarta. PSBB sendiri kepanjangan dari pembatasan sosial berskala besar. PSBB merupakan salah satu bagian dari karantina kesehatan, makanya setiap daerah yang akan menerapkan PSBB harus mengajukan ke kementerian yang dipimpin oleh Dr. Terawan tersebut.

Paska diberlakukan nya PSBB DKI, sejumlah daerah penyangga ibu kota ramai-ramai mengajukan PSBB. Daerah-daerah tersebut yakni BODETABEK. Kini daerah-daerah tersebut bersiap menerapkan hal serupa, yakni pemberlakuan PSBB.

PSBB memaksa masyarakat untuk membatasi sebagian besar aktifitas nya di rumah atau istilah keren nya #stayathome. PSBB membatasi semua aktifitas public di berbagai sektor misalnya sektor transportasi, perdagangan dan lain nya. PSBB merupakan salah satu cara komunikasi pemerintah untuk melindungi warganya, dimana maksud dan tujuannnya tentu sangat baik bagi kita semua yakni memutus mata rantai penyebaran pandemi korona.

Apakah PSBB ini akan berhasil? Tentunya butuh kerjasama dari kita semua. Namun PSBB akan berhasil setidaknya mencakup dua hal, yakni bagaimana pemerintah mengkomunikasikan PSBB ke masyarakat dan bagaimana ke disiplinan masyarakatnya itu sendiri.

Berbicara komunikasi tentu akan berhubungan langsung dengan komunikan (penerima pesan). Secara teori, komunikasi adalah proses menyampaikan ide/gagasan kepada komunikan, namun pada prosesnya tidak sesederhana itu. Di dalamnya terdapat berbagai hal yang bisa membantu atau justru menghalangi pesan dari komunikator ke komunikan. Proses komunikasi juga dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di dalam dan di luar proses tersebut.

Hal-hal internal yang memengaruhi proses komunikasi antara lain adalah sifat dan karakter dari komunikator dan komunikan itu sendiri, bagaimana latar belakang keduanya, apa yang menjadi pandangan dan tujuan mereka masing-masing. Sementara itu hal-hal eksternal yang memengaruhi proses komunikasi antara lain adalah lingkungan tempat komunikasi tersebut berlangsung, gangguan-gangguan pada perangkat yang digunakan dalam komunikasi, hingga nilai dan tata krama yang ada di masyarakat.

Jika kita merujuk kembali ke PSBB, pada dasarnya pemerintah akan sedang menyampaikan pesan ke masyarakat tentang bahaya covid 19 dengan menerapkan PSBB. Maka dalam hal ini PSBB sebagai media penyampaian pesan tersebut. PSBB akan berhasil, apabigi pemerintah mampu mengkomunikasikan secara massif tentang bahaya covid 19 namun proses ini tentunya tidak akan mudah diterapkan, pasalnya PSBB merupakan barang baru di masyarakat. Secara teori sesuatu yang baru akan di tolak oleh masyarakat, untuk itu seyogyanya pemerintah terus menerus melekukan sosialiasi di masyarakat terkait penerapan PSBB.

Kedua, terkait kedisiplinan diri, berbicara tentang kedisiplinan tentunya setiap orang atau masyarakat berbeda-beda. Bangsa kita memang pada dasarnya terlihat kurang disiplin dalam melakukan sesuatu namun penulis yakin bahwa masyarakat kita bisa bersabar dan disiplin dalam menghadapi wabah ini, apalagi pemerintah kita suda wabah ini memang wabah kategori global bukan local, artinya jika pemerintah massif dalam mengkampanyekan disiplin terkait wabah ini maka bisa dipastikan secara perlahan-lahan warga kita akan disiplin. Jika kita semua disiplin maka dalam waktu dekat wabah ini akan menghilang dari negeri kita.

Oleh: AKHMAD SAOQILLAH, Pengamat Komunikasi Digital / Direktur Madani Indonesia.

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker