Ekonomi & Bisnis

Memahami Harga Minyak Negatif, Catatan Arcandra Tahar – #AYOJAGAJARAK

DETIKINDONESIA, JAKARTA – Beberapa waktu yang lalu, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) jatuh hingga minus. Ada sejumlah faktor yang membuat harga minyak untuk pengantaran bulan Mei itu menjadi negatif. Pertama, storage di AS sudah penuh. Sehingga tidak ada lagi ruang penampungan dari produksi minyak AS yang kini berkisar antara 12-13 juta barel per hari (bph)

Faktor kedua, ketika transaksi perdagangan akan ditutup untuk pengantaran bulan Mei, hanya sedikit yang melakukan trading, sehingga harga terus turun. Dan harga ini belum tentu mencerminkan harga yang sebenarnya.

Dalam situasi itu muncul pertanyaan. Apabila harga minyak di AS USD 0 per barel, apakah harga BBM (gasoline) di SPBU per gallon juga USD 0? Tentu tidak. Di AS (data tahun lalu) struktur harga BBM di SPBU per gallon ditentukan oleh beberapa komponen.

1. Transportation & Marketing : USD 39 cent
2. Refining Cost & Profit : USD 34 cent
3. Federal Gasoline Tax : USD 18 cent
4. Average State Tax : USD 36 cent

Total akan diperoleh angka USD 1,27 per gallon. Dengan tambahan margin di SPBU sekitar USD 10 cent per gallon, harga jual BBM sebesar USD 1,37 per gallon atau seta ra USD 0,36 cent per liter. Jika dirupiahkan setara dengan Rp 5.422 per liter (kurs Rp 15.000/USD).

Untuk beberapa negara bagian, biaya Transportation & Marketing dan juga State Tax bisa lebih rendah dari angka diatas. Di Texas misalnya State Tax hanya USD 20 cent per gallon. Inilah kira-kira komposisi pembentuk harga retail SPBU di AS dengan asumsi harga minyak USD 0.

Dengan situasi harga minyak saat ini, apa artinya untuk masa depan?
AS akan memangkas produksi minyaknya dari 12,7 juta bph menjadi dibawah 11 juta bph atau sekitar 10,5 juta bph. Jika AS menurunkan produksinya hingga 2.2 juta bph dan OPEC+ juga akan memangkas produksi 9,7 juta bph, maka ketika permintaan minyak dunia akan naik di tahun 2021 (dengan harapan wabah covid 19 sudah mereda), harga minyak saat ini kemungkinan akan naik tajam.

Kondisi prediksi kenaikan kebutuhan minyak di dunia tahun 2021 diperparah lagi lantaran selama 5 tahun terakhir tidak banyak proyek eksplorasi minyak konvensional yang dikembangkan di seluruh dunia. Karena itu penting sekali mengembangkan strategi yang tepat agar jatuhnya harga minyak saat ini dapat dioptimalkan untuk kepentingan di masa depan. (DI/RB)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker