Opini

PERS, Menghadirkan Realitas, Imajinasi dan Peradaban

“Refleksi Hari Kemerdekaan Pers Sedunia, 3 Mei 2020”

Oleh: Muliansyah Abdurrahman

Penulis Adalah: Pelaku Usaha, Pegiat Sosial – Politik dan Aktif di Pasifik Resources

Pada kondisi pandemi covid 19 sekalipun pun, pers masih menjadi penting bagi kehidupan individu, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Pers hadir pada setiap detik di ruang dan waktu yang tak menentu dan melihat apa dan siapa latar belakang ia miliki, karena pers pada era peradaban teknologi informasi seperti ini tampil menjadi satu imajinasi hidup yang kita miliki bersama.

Peradaban teknologi dan informasi menjadikan pers sebagai wadah yang sangat tepat untuk mengeklarasi, mengimajinasi, menghadirkan informasi dan mempertanggungjawabkan narasi, karena satu – satunya wadah yang secara industry memiliki legalitas dan norma – norma hidup yang sudah diatur dalam aturan hidup bermasyarakat dan bernegara.

Melihat definisi pers Pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920 – an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media

Hari ini tanggal 3 mei 2020, bertepatan dengan hari kemerdekaan pers sedunia, secara historis tentu sejarah-lah yang mengingatkan kita kembali di era deklarasi kebebasan pers itu sendiri, dalam istilah penulis adalah pers dimerdekakan pada tahun 1991, dimana telah berkumpul para jurnalis dunia yang memiliki cara pandang kebebasan media, pluralisme media, dan independensi media.

Pandangan – pandangan tersebut mengalir pada setiap pertemuan – pertemua pegiat media dan jurnalis dunia, maka mereka sepakati yang namanya kebebasan pers yang bernama “Deklarasi Windhoek”, Windhoek ini adalah salah satu ibu kota di negara bagian Afrika.

Deklarasi ini mendukung bahwa pers harus bebas, pluralis dan independen, sehingga tanggal 3 Mei adalah ingatan hari kebebasan pers sedunia itu terus di lakukan oleh siapapun serta lebih pada industry media atau pegiat pers dan para jurnalis dunia.

ECOSOC merupakan salah satu badan atau Dewan Ekonomi Sosial  yang mendorong untuk mendukung proposal UNESCO dan membuka jalan bagi Sidang Umum untuk “mendeklarasikan Hari Kemerdekaan Pers Dunia 3 Mei” yang tercantum dalam Keputusan 48/432 tanggal 20 Desember 1993. Sejak 1993 itulah, tanggal 3 Mei selalu dilaksanakan satu momentum yang sangat baik bagi industry media dan dan pegiat jurnalis di seluruh dunia dengan bebas, pluralis dan independen.

Satu pengetahuan dan norma yang baik bagi pegiat media dimana saja berada, bahwa media memiliki satu hak untuk merdeka tanpa ada intevensi, tanpa ada kuasa, dan tanpa ada tekanan dari siapapun dan darimanapun.

Di Indonesia Secara legalitas Pers diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, ini menunjukkan bahwa pers memiliki satu pondasi hukum yang sangat kuat untuk menjadi bagian dari kehidupan pers, insan pers dan pegiat pers. Agar pers di Indonesia menjadi satu kehidupan imajinasi, wadah informasi  dan realitas serta pers juga mampu menghadirkan peradaban – peradaban digital dunia.

Kembali lagi melihat stikma masyarakat, realitas dan praktek pers masih menjadi satu kebuntutan berfikir yang menurut penulis dari mana kita memulai dan darimana kita mengakhiri, proses perjalanan pers yang sudah tercover menjadi klaster media menurut Dewan Pers juga belum selesai dalam pembahasanya, selanjutnya yang tidak terklaster juga sangat banyak dibawa oleh naungan asosiasi maupun perkumpulan serta yang tidak masuk dalam item asosiasipun sangat banyak bahkan sekedar menjadi mediapun semakin hari semakin menjamur menjadi media.

Stikma pers menebar hoax, pers tidak independen dan pers tak memiliki moralitas adalah stikma buruk yang perlu di edukasi oleh pegiat pers, tentu stikma sepert itu muncul, karena ada sebab, sehingga akibatnya terjadi pers diberi “labeling” buruk dan negative.

Padahal bukan itu visi pers yang di bangun, spirit pers hampir semuanya adalah berita baik, informasi akurat, realitas yang bersumber dan anti hoax. Bebas tetap beraturan, pluralis tetap memiliki nilai, independen menjadi prinsip utama.

Sehingga kalau stikma negative masih bagian dari stikma kepada pers, tentu menjadi perhatian kita bersama bahwa pers adalah hadir bukan sekedar memberikan ruang informasi realitas, tetapi pers juga hadir sebagai jembatan peradaban kemanusiaan, jembatan peradaban berfikir dan jembatan peradaban nilai dan norma hidup.

Bukankah tanpa pers, maka hoax semakin tidak terkontrol, bukankah tanpa pers orang memberi informasi tanpa beraturan dan bukankah tanpa pers informasi tak terupdate dan tidak akurat. Karena pers- lah bisa menyatukan kita, karena pers-lah bisa memberi kita informasi yang bersumber, karena pers-lah kita mengenal peradaban dunia (peradaban informasi), karena pers-lah kita mendapat info yang akurat dan bertanggungjawab.

Di tanggal 3 mei 2020 hari ini, penulis sebagai pegiat pers ikut melihat parameter pers di Indonesia di kondisi pandemic covid 19 seperti, semua aktivitas dan konetivitas di stopkan, ditutup dengan alas an mendasar jaga jarak dan memutus mata rantai covid 19 serta membatasi ruang menularnya wabah tersebut, akan tetapi pers masih bertahan menjadi satu ruang kebutuhan yang menghadirkan kabar per detik di hampir seluruh Indonesia bahkan dunia.

Terus terang kita melihat para insan pers yang bekerja siang maupun malam, tetapi mereka hampir tak menjadi prioritas utama dalam kabijakan – kabijakan negara maupun daerah, pataskah kita harus melihat para profesi lain lantas kita “iri” atau tak enak dalam profesi, ternyata tidak juga, para dokter dan medis mendapat fasilitas yang baik, tentu pengabdianya sangat baik dan ber – resiko, para polisi juga mendapat perhatian yang begitu lebih, karena mereka juga bekerja yang ber resiko, pemerintah dan perangkatnya juga mendapat perhatian yang langsung dari pemerintah pusat maupun daerah, karena mereka bekerja.

Jurnalis?, wartawan?, insan pers,?, fungsi yang sama tapi beda istilah, penulis harus jujur katakan hal ini, dimanakah mereka saat covid 19 belum berakhir, profesi mereka adalah pengabdian dan “buruh – buruh” yang tak di ketahui, hanya bermodal selembar kertas dan bolpoin, hanya bermodal “jepretan – jepretan kamera”, hanya bermodal alat komunikasi bersifat HP dan hanya bermodal akal sehat dan fisik yang sehat mereka bekerja siang dan malam.

Selamat Hari Kebebasan Pers Dunia, 3 mei 2020, semoga matahati dunia melihat, pers dan insan pers, jurnalis dan media, bekerjalah sesuai profesi dan bidangmu, mengabdianlah atas tugas dan jasamu, semoga covid 19 juga ikut berakhir, kau adalah jurnalis sejati, pengabdi dan peranmu menghadirkan realitas, imajinasi dan peradaban.

Oleh: MULIANSYAH ABDURRAHMAN, Pelaku Usaha, Pegiat Sosial – Politik dan Aktif di Pasifik Resources

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker