Life StyleOpini

Relevansi Serta Titik Temu Pancasila dan Agama – #AYOTUNDAMUDIK

Oleh: Nur Kholis

Penulis Adalah: Mahasiswa Sosiologi FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota IPNU PAC Trawas Mojokerto dan Anggota Komunitas Bela Indonesia Jawa Timur (KBI Jatim)

Pancasila adalah pedoman, dasar, dan falsafah hidup bagi bangsa Indonesia. Pancasila sangat unik karena ia berada dan tampil sebagai solusi (jalan tengah) ditengah eksistensi ideologi-ideologi besar dunia seperti komunisme, kapitalisme, liberalisme dan sebagainya. Pancasila juga terbukti mampu mempersatukan setiap keberagaman yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dalam satu panji yaitu NKRI. Pancasila tidak cukup hanya dibaca, dihafal, dan dirapal semata, tapi yang terpenting daripada itu adalah bagaimana mengimplementasikan (mengamalkan) nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang terpenting dari Pancasila bagaimana mengamalkan dan memasyaratkan nilai-nilai yang terdapat dalam sila-sila Pancasila tersebut dalam kehidupan sosial, sehingga mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang Pancasilais. Bangsa yang Pancasilais adalah bangsa yang mampu mengamalkan (menerapkan) nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila secara murni dan konsisten. Banyak orang memandang bahwa Pancasila itu liberal, kebarat-baratan, dan tidak islami. Pancasila merupakan sumber nilai yang menggabungkan dari ideologi-ideologi besar, dan didalamnya terdapat nilai-nilai dan ajaran yang bersifat dinamis. Apabila kita analisis lebih mendalam, Pancasila sangat Islami, mempelajari Pancasila sama pentingnya dengan mempelajari agama, karena Pancasila bagian daripada agama. Terdapat relevansi serta titik temu Pancasila dan agama. Pancasila terdiri dari lima sila.

Sila Pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Sila ini selaras dengan Alqur’an surat Al Ikhlas ayat 1. Yang artinya adalah “Katakanlah dialah Allah yang Maha Esa”. Didalam Islam setiap Rasul diutus dengan membawa ajaran (syariat) yang berbeda-beda sesuai dengan konteks zamannya, tetapi inti dari ajarannya tetap sama, yakni mengajarkan ketauhidan atau mengesakan Tuhan.

Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila kedua mengajarkan mengenai kesetaraan dan keseimbangan manusia, semua harus diperlakukan secara adil sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Ini sejalan dengan Alqur’an surat Al Hujurat ayat 13. Terjemahannya adalah “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Ayat ini menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya semata.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. mengajarkan mengenai pentingnya menjaga persatuan, dan kesatuan bangsa, memupuk rasa cinta pada tanah air, serta memposisikan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongan. Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Alqur’an surat Ali Imran ayat 103. Yang artinya “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (massa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara”. Dalam konteks Pancasila, ayat ini memiliki relevansi dengan sila kedua yakni mengajarkan betapa pentingnya membina kesatuan dan persatuan, rasa persaudaraan antar sesama manusia. Setelah persatuan diraih, kiranya bisa saling bekerjasama saling bahu membahu dalam membangun dan memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negaranya.

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Menyampaikan bahwa kita memilih orang yang terbaik dan yang kita anggap dapat dipercaya untuk mewakili kita sebagai pemimpin untuk melaksanakan permusyawaratan dalam mengambil keputusan untuk kemaslahatan bersama. hal ini selaras dengan apa yang terdapat dalam Alqur’an surat Ali Imran ayat 159 yang artinya “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar  tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”.  Dalam ayat ini kita dianjurkan untuk bermusyawarah dalam mengambil setiap keputusan guna mencapai mufakat dan kebaikan bersama.

Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sila ini mengajarkan untuk berbuat adil terhadap setiap manusia, memiliki hak yang sama dalam setiap bidang, baik pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum, sosial, politik, budaya dan bidang yang lain. Ini selaras dengan apa yang diajarkan oleh Alqur’an surat An Nahl ayat 90. Terjemahannya yaitu, “Sesungguhnya manusia menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Dalam ayat ini kita dianjurkan untuk bersikap adil kepada semua manusia, dan semua makhluk.

Dari analisis ini, dapat kita simpulkan bahwa Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam, mengamalkan nilai-nilai Pancasila sama halnya dengan mengamalkan nilai-nilai agama, karena Pancasila adalah bagian dari agama. Sila yang terdapat dalam Pancasila bersifat dinamis, luwes, dan universal, selaras dengan nilai-nilai pokok ajaran setiap agama, sehingga dapat diamalkan (diterapkan) oleh setiap pemeluk agama dan kepercayaan. Pancasila relevan dan selaras dengan nilai-nilai agama, keduanya merupakan satu kesatuan yang padu. lPancasila adalah kita semua.

Oleh: NUR KHOLIS, Mahasiswa Sosiologi FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota IPNU PAC Trawas Mojokerto dan Anggota Komunitas Bela Indonesia Jawa Timur (KBI Jatim)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker