Life StyleNasional

Janji Jokowi Tak Terealisasi, Mantan Presiden Trisakti Kembali Mengingatkan Tragedi 12 Mei 1998

DETIKINDONESIA, JAKARTA – Tragedi 12 Mei 1998 harus menjadi Pelanggaran HAM Berat Terakhir di Bangsa Ini, Hari ini tanggal 12 Mei, tepat 22 tahun lalu merupakan selasa kelam bagi bangsa Indonesia. Sebuah tragedi kekerasan HAM yang dilakukan oleh aparat negara yang menewaskan 4 orang mahasiswa dan melukai puluhan lainnya dalam sebuah aksi damai di kampus Universitas Trisakti, Grogol Jakarta Barat.

Hari ini juga mantan Presiden Trisakti 2008 Atma Winata Nawawi angkat bicara bahwa tragedi Trisakti merupakan bukti negara pernah melakukan pembungkaman terhadap sikap kritis mahasiswa dan pemuda. Kekerasan yang terjadi pada 12 Mei 1998 terjadi secara terstruktur, dan massif, saat di redaksi, tadi, Selasa (12/5/2020).

Aksi yang menjadi titik awal munculnya gelombang besar yang menamakan diri Gerakan Reformasi ini berujung pada demonstrasi besar yang memaksa Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan mengakhiri kekuasaannya selama 32 tahun.

“Tembakan peluru tajam yang dilepaskan secara brutal ke arah kerumunan mahasiswa, patut diduga tidak lagi untuk membubarkan massa, tapi lebih kepada upaya menyakiti hingga membunuh mahasiswa, dan inilah yang menjadi dugaan pelanggaran HAM berat” ujar Atma.

Saat disinggung tentang perkembangan kasus, aktivis yang pernah menjabat Tim Asistensi Menteri Lingkungan Hidup ini menyatakan kasus ini memang telah selesai disidangkan di Mahkamah Militer, dan beberapa oknum tentara dinyatakan bersalah dan dihukum, namun untuk pengungkapan dalang kasus melalui pengadilan HAM AdHoc selalu terkendala.

“Pada awal perjuangan pembentukan persidangan HAM Tragedi Trisakti, digagalkan oleh rekomendasi DPR, namun setelah 2017 MK menyatakan pengadilan HAM AdHoc tidak memerlukan rekomendasi DPR, kasus ini berada pada Kejaksaan Agung dan Presiden, namun itu pun belum kunjung ada kemajuan.” Terangnya.

Redaksi menelusuri bahwa, Pemerintahan Jokowi pernah menjanjikan akan menuntaskan kasus Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, namun hingga tahun ke-6 janji tersebut tidak terealisasi, bahkan sempat muncul wacana untuk membentuk komisi rekonsiliasi terhadap korban kekerasan 1998. Namun wacana itu pun belum menunjukkan kemajuan.

“Saya berharap di periode kedua pemerintahan pak Jokowi, beliau berkenan memberikan gelar Pahlawan Reformasi kepada keempat anak bangsa yang gugur demi memperjuangkan demokrasi dan reformasi ini, dan menjadikan tanggal 12 Mei menjadi hari pergerakan mahasiswa Indonesia. Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 haru jadi pelanggaran HAM Berat terakhir di negeri ini” Pungkas Atma yang juga mantan Presiden Trisakti 2008 in. (DI/M)

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker