OpiniPeristiwa Daerah

Paguyuban Tana Ai Diaspora Jabodetabek Dukung Aparat & Pemda Sikka Tegakkan Protokol Covid-19

Oleh: Dominikus Desse Lewuk
Penulis adalah Ketua Umum Paguyuban Diaspora Tana Ai Jabodetabek

Lima bulan terakhir dunia dihantam wabah virus corona (Covid)-19, dan telah menelan korban jiwa ratusan ribu orang. Indonesia pun tidak luput dari wabah yang mematikan ini. Hingga Sabtu, 9 Mei 2020, tercatat 959 orang di Indonesia yang meninggal akibat covid-19. Masyarakat di semua provinsi, termasuk Nusa Tenggara Timur terjangkit virus tersebut.

Pemerintah terus berupaya untuk mencegah penularasan virus corona dengan menetapkan protokol antara lain menghindari kerumuman, cuci tangan pakai sabun, wajib menggunakan masker dan bertahan di rumah. Itu sebabnya, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar selama wabah Covidi-19 seluruh masyarakat diminta bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah.

Kebijakan ini dilakukan Presiden Joko Widodo karena virus ini tidak berterbangan dari satu lokasi ke lokasi lain atau dari satu orang ke orang lain. Virus ini berpindah karena ulah manusia melalui batuk, bersin, bersalaman dan sejenisnya. Karena itu, dimana-mana Presiden selalu menekankan soal pentingnya seluruh masyarakat berada di rumah saja, kecuali tenaga medis dan pihak lain yang harus ada di luar rumah.

Bekerja dari rumah kemudian adanya penutupan aktivitas perkantoran, industri, penyetopan angkutan antarkota, pesawat terbang, kereta api dan kapal penumpang. Lalu beribadah dari rumah dimana semua aktivitas keagamaan untuk semua agama tidak lagi terpusat di gereja, masjid, pura dan lainnya. Tidak mengherankan, sekarang ibadah hari minggu untuk umat Kristen dan Katolik dilakukan melalui online. Demikian pula kegiatan agama lainnya. Kondisi wabah Covid-19 memaksa semua umat untuk memahami dan mengerti demi kebaikan bersama.

Itu sebabnya, Ketika ada sejumlah warga di wilayah (Desa) Nangahale yang memaksakan diri untuk beribadah di rumah ibadat seperti yang terjadi beberapa hari lalu tentu sangat mengagetkan semua orang. Bukankah perintah Presiden untuk beribadah dari rumah demi kebaikan dan keselamatan bersama? Apalagi, sejauh ini ada sembilan warga Nangahale yang reaktif Covid-19 yang terdiri dari 2 kluster yakni 5 orang dari Kluester Gowa dan 4 orang dari Kluster Lambelu.

Setelah mempelajari kasus itu dengan seksama, kami kami Paguyuban Masyarakat Tana Air menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Menyesalkan sikap sejumlah warga di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, yang ngotot ingin beribadah di dalam rumah ibadatnya. Sikap yang mau menang sendiri dan tidak mematuhi kebijakan pemerintah dalam situasi darurat ini bukan merupakan sikap yang terpuji. Bahkan, sikap ini hanya akan mengganggu rasa kebersamaan dan persaudaraan tanpa memandang suku dan agama yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Talibura, termasuk Nangahale.

2. Meminta semua tokoh agama untuk lebih bijaksana dalam menghadapi situasi darurat Covid-19 ini. Berikanlah penjelasan dan informasi yang benar kepada umat yang dipimpinnya bahwa wabah ini sungguh mengerikan dan mematikan. Wabah ini tanpa medan tempur, tanpa melihat tempat suci. Wabah ini tidak memiliki rasa kemanusiaan. Wabah ini sungguh kejam: tidak menghormati anak-anak, perempuan dan tempat ibadah. Siapa pun dan dimana pun wabah Covid-19 ini bisa menular dan menyerang.

3. Demi keselamatan semua masyarakat, terutama di Kecamatan Talibura, dan seluruh wilayah Kabupaten Sikka, kami meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap siapa pun yang melanggar protocol pencegahan Covid-19. Bagi yang bandel dan melawan harus ditindak tegas agar yang bersangkutan tidak menyebarkan bibit-bibit yang dapat mengganggu hidup bersama masyarakat di Kabupaten Sikka.

4. Kami mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Sikka, dan Pulau Flores umumnya agar terus meningkatkan solidaritas dan mempererat persaudaraan dalam melawan Covid-19. Di samping itu, menaati protokol penecagahan, yakni belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, hindari kerumunan, cuci tangan pakai sabun dan selalu menggunakan masker. Hanya dengan cara ini wabah mematikan tersebut dapat dicegah.

Oleh: DOMINIKUS DESSE LEWUK, Ketua Umum Paguyuban Diaspora Tana Ai Jabodetabek

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker