Opini

Saatnya Yang Muda Menjadi Kreatif, Inovatif dan Aktif Perangi Penyebaran Hoax

Oleh: Safari F. Naipon.

Penulis Adalah: Jurnalis dan Pemuda Desa Kabau Darat Kecamatan Sulabesi Barat

Di era digital seperti saat ini penyebaran informasi kian bertumbuh dan perkembangannya semakin tak terelakan lagi, keberadaan alat telekomunikasi seperti handphone, turut memancing bermunculannya media sosial dalam berbagai jenis yang serba canggih saat ini yang berbahaya bukan lagi lisan melainkan jari. Bukan jemari biasa yang berbahaya, melainkan jari-jari gatal mengetik yang akhir-akhir ini sering naik kepermukaan melalui sosial media. Adanya kesalahpahaman terhadap sebuah pemicu utama munculnya jari-jari jahil ini. Akibatnya, akan muncul berita-berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah hoax.

Lancarnya internet saat ini tentu sudah menjadi kebiasaan, terutama pada generasi millenial. Para generasi melek teknologi ini menjadi pemilik akun sosial media tertinggi dibanding generasi lain. Hal ini jelas berbahaya. Berkat intensitas yang tinggi dalam mengoperasikan media sosial, para generasi millenial akan lebih sering menemui hoax. Bahkan lehih buruknya lagi, mereka yang gemar memburu informasi lewat internet kemungkinan termakan oleh hoax.

Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif seperti yang kita lihat saat ini banyak kaum milenial yang menggunakan Akun palsu dan mencoba untuk menyerang sepihak serta di anggap orang tersebut adalah lawan politiknya. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan membahayakan generasi milenial.

Berita yang menjadi bahasa bagi individualisme ataupun kelompok dalam menyampaikan informasi. Sekarang penyebarannya bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun hanya dengan media sosial, serta jaringan internet yang memadai. Namun kenyataanya, media sosial yang mulanya menjadi alat dalam mempermudah akses seseorang untuk berinteraksi sosial. Kini dibalik fungsikan sebagai alat penebar kebohongan berupa informasi hoax. Seperti kasus yang terjadi beberapa bulan lalu sempat viral di media sosial konon katanya seorang bayi baru lahir langsung bicara soal makan telur rebus bisa cegah Virus Corona.

Melalui bahasa lisan serta tulisan yang di buatnya mampu menggiring pemikiran masyarakat khususnya masyarakat Kepulauan Sula hingga terjebak pada satu kebohongan publik. Kaum milenial yang tidak memahami bahasa kebohongan ini, akan lebih mudah terjerumus pada satu alat penghancur karakter negeri jazirah al-mulk yang kita cintai ini.

Bahasa kini mulai dipergunakan masyarakat sebagai alat mencaci maki, menghujat, saling mendiskriminasi terhadap satu informasi di media sosial yang belum diketahui kebenarannya. Mengutip bahasa, menurut definisi Walija (1994:4) mengatakan bahwa bahasa adalah komunikasi paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. Tetapi fakta yang ada, masyarakat terutama kaum milenial di Sula saat ini tidak bisa mengendalikan diri hingga terseret arus negatif dari penyalahgunaan bahasa di Media Sosial saat ini.

Menyadari hal tersebut, sudah banyak kelompok yang secara proaktif mengajak masyarakat agar lebih cerdas menggunakan media sosial yang merupakan wadah bagi para kaum milenial untuk berbagi ilmu dengan para pakar literasi digital Indonesia. Para peserta juga dapat ‘curhat’ kepada para pakar tentang apa saja yang mereka hadapi di dunia digital pada ‘zaman now’.

Tujuan utama dari kaum milenial digital saat ini ialah membentuk generasi muda yang merdeka khususnya generasi muda Kabupaten Kepulauan Sula saat ini agar mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi. Sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh berita-berita hoax yang dapat melunturkan hubungan silahturahmi antara teman yang satu dengan teman yang lainnya dalam hal mengakses informasi yang dianggap lehih praktis dari pada media berita konvensional.

Minat generasi millenial jika tidak diimbangi dengan kemampaun memfilter adanya media masa kritis, tentu meningkatkan resiko bagi mereka akan terprovokasi oleh berita hoax. Selain itu juga menyulitkan generasi millenial untuk menilai kebenaran dari sebuah berita.

Pemilihan Kepala Daerah serentak di Indonesia saat ini, informasi seputar dunia politik tentu akan mengiuarkan bagi para millenial terutama bagi mereka yang baru tahun ini memiliki hak suara. Berita hoax itu bukan tidak mungkin akan memprovokasi para millenial untuk mengerucut kesalah satu pihak. Selain itu saya yang juga terhitung sebagai kaum millenial pernah mendapati teman saya termakan oleh hoax.

Dari hal itu sudah cukup membuktikan, jika hoax memang sangat dekat dengan kita terutama generasi millenial pengguna media sosial. Meskipun banyak media yang menyarankan orang tua ikut berperan dalam hal ini. Namun berkat pesona jejaring sosial para kaum millenial justru akan semakin sulit terpisahkan dengan kegiatan didunia maya, sebagai generasi yang dinamis dengan pola pikir yang segar, menangkal informasi hoax tentunya bisa dimulai dari diri sendiri salah satunya yang dapat digunakan oleh para millenial adalah dengan menambah literasi.

Sampai saat ini masih tersimpan rapi di memori kecil saya, ada seorang teman kos-kosan tepatnya di Kelurahan Sasa Kota Ternate. Ia juga penggemar membaca Buku Sejarah Filsafat Barat pengarang Bertrand Russel Yakni Galim Oemabahi sapa akrabnya, mengatakan perbanyaklah membaca dari berbagai literatur akan meningkatkan daya kritis para millenial. Meskipun jejaring sosial tetap menjadi primadona akan tabu rasanya jika menghilangkan peran media masa konvensional seutuhnya.

Kaum milinial yang Meleknya Teknolgi dan juga keberanian lewat literasi dapat diwujudkan dengan menjadi seorang conten creator. Conten creator adalah orang yang mampu mengutilisasi platform media dengan konten yang dapat disebar luaskan untuk Konten yang dapat dikemas semenarik mungkin dengan isi yang segar akan dapat menangkal pertumbuhan penebaran hoax bahkan juga memangkas bibitnya dari sekarang.

Perbanyaklah konsumsi konten segar dapat membuka wawasan kita, kebenaran yang eksistensinya meraguragukan dapat dipercaya begitu saja jika terjadi booming tanpa diimbangi dengan pola pikir baru yang bisa menjadi bahan pertimbangan objek sebuah berita sebab itulah kaum millenial akan menjadi generasi paling berpengaruh bagi perubahan, saatnya yang muda menjadi kreatif, inovatif, aktif memerangi penyebaran hoax.

PENULIS: Safari F. Naipon, Jurnalis dan Pemuda Desa Kabau Darat Kecamatan Sulabesi Barat (Sulbar).

Facebook Comments

Please enter banners and links.

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker